Total Tayangan Halaman

Selasa, 08 Januari 2019

PENDIDIKAN SIAGA BENCANA SEBAGAI UPAYA MENGURANGI RESIKO BENCANA


Pendahuluan
Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia, terletak pada cincin api dan pertemuan antar lempeng dunia yang memiliki potens besar terhadap kejadian bencana alam. Sering sekali terjadi gerakan sesar atau patahan yang menyebabkan gempa bumi hingga tsunami serta erupsi gunung-gunung berapi. Tidak hanya bencana yang disebabkan oleh faktor alam, Indonesia juga sudah langganan untuk tertimpa bencana tahunan seperti banjir, tanah longsor, kebakaran hutan, dan sebagainya yang disebabkan oleh ulah manusia sendiri. Bencana yang terjadi  selalu memiliki dampak yang merugikan bagi masyarakat, baik secara moril dan materil.
Bencana adalah peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan baik oleh faktor alam atau faktor nonalam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis. Sedangkan Mitigasi bencana adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana. (UU No. 24/2007 ttg PB, Pasal 1, Ayat 9)
Menurut data BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) selama tahun 2018 (data dirilis 25/10/2018), terjadi 1.999 kejadian bencana di Indonesia. Dampak yang ditimbulkan bencana dilaporkan sangat besar. Tercatat 3.548 orang meninggal dunia dan hilang, 13.112 orang luka-luka, 3,06 juta jiwa mengungsi dan terdampak bencana, 339.969 rumah rusak berat, 7.810 rumah rusak sedang, 20.608 rumah rusak ringan, dan ribuan fasilitas umum rusak. Dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, jumlah korban meninggal dunia dan hilang akibat bencana pada tahun 2018 terhitung paling besar sejak tahun 2007
Salah satu faktor penyebab timbulnya  banyak  korban  akibat  bencana  alam adalah   kurangnya pengetahuan masyarakat tentang bencana dan kurangnya kesiapan masyarakat dalam mengantisipasi bencana. Sebagai contoh pada kejadian gempa bumi korban yang meninggal banyak terjadi karena tertimpa reruntuhan bangunan roboh. Diantara korban jiwa tersebut, paling banyak adalah wanita dan anak-anak. Dalam manajemen risiko bencana dikenal tindakan pengurangan risiko bencana (disaster risk reduction measure) yang salah satunya dapat ditempuh melalui peningkatan pengetahun tentang bencana. Sampai saat ini pengetahuan mengenai  pengurangan risiko bencana  belum masuk  ke dalam kurikulum  pendidikan  di Indonesia.  Padahal  113 negara lain yang  sudah memasukkannya ke dalam kurikulum pendidikan dasar dan menengah diantaranya adalah Bangladesh, Iran, India, Mongolia, Filipina, Turkey, dan Tonga. Berdasarkan Hyogo Framework yang disusun oleh PBB maka pendidikan siaga bencana merupakan prioritas, yakni Priority for Action 3: Use knowledge, innovation and education to build a culture of safety and resilience at all levels.( Krisna:2004)

Pendidikan Pengurangan Risiko Bencana
               
Menurut ISDR (2006:45)   Disaster Risk  Reduction (DRR) adalah: a term used for techniques focus on preventing or minimizing the effects of disasters. For instance, certain areas of a city that are prone to earthquake hazard may have development restricted or building codes may be implemented that protect up to a specified level of shaking, to protect against earthquakes. The term has been adopted and has developed an international strategy on promoting disaster risk reduction as it has been shown to be very cost effective.
Inisiatif yang fokus pada pengurangan risiko bencana bertujuan untuk mengurangi kemungkinan terjadinya bencana (perlindungan terhadap banjir, misalnya melalui pengerukan sungai) atau meningkatkan kemampuan komunitas dalam merespon  kedaruratan  (memastikan  adanya  persediaan  makanan  dan  minuman  selama  3  hari).  Karena  bencana merupakan produk dari peristiwan dan manusia, merubah sesuatu hal akan memiliki dampak pada kejadian bencana. Contoh  lain  dari  inisiatif  dalam  pengurangan  risiko  bencana  adalah  meningkatkan    pengetahuan  dan  merancang kerangka kebijakan legal dan public. Pengurangan risiko bencana berhubungan dengan bidang: bantuan kemanusiaan, sektor bantuan pembangunan, manajemen risiko, perubahan iklim dan persiapan kedaruratan.
Menurut  UN-  ISDR education  for  disaster risk  reduction  merupakan  proses  interaktif  dari  saling belajar  antara individu dan organisasi.  Pendidikan  risiko bencana tidak terbatas  pada pendidikan  formal di sekolah-sekolah  dan universitas, serta menyangkut rekognis dan penggunaan pengetahuan dan kearifan lokal untuk melindungi dari bahaya alam.
Hasil penelitian yang dilakukan (Krisna :2004) mengenai pendidikan risiko bencana gempa bumi  yaitu bahwa siswa yang memperoleh  pendidikan  siaga bencana gempa bumi   memiliki peningkatan pengetahuan mengenai fenomena gempa bumi, tindakan mitigasi dan tanggap darurat. Selain itu mereka memiliki persepsi realistik terhadap kemungkinan terjadinya bahaya. Selain itu siswa berperan aktif dalam diseminasi informasi pengurangan risiko bencana di rumahnya. Orangtua siswa juga memiliki peran aktif dalam mendorong siswa untuk mempelajari materi pendidikan siaga bencana.
Peranan dalam kesiapsiagaan bencana tidak hanya menjadi tanggung jawab Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), tetapi juga kementerian pendidikan dan kebudayaan yang memiliki peranan cukup penting dalam hal meningkatkan pengetahuan di bidang kesiapsiagaan dan mitigasi bencana sebagai salah satu upaya yang dapat ditempuh untuk mengurangi dampak dari bencana. Menyimpulkan pengertian bencana dari undang-undang 24 tahun 2007 tentang penanggulangan bencana bahwa bencana tidak dapat dihindari, namun dapat di manajemen sehingga dampak yang timbul dapa diminimalisir.

Kesimpulan
                Indonesia sebagai negara yang memiliki potensi yang besar terhadap kejadian bencana (baik bersumber dari alam maupun non alam). Hampir setiap bencana menimbulkan dampak yang besar baik materiil maupun non meteriil. Peranan dalam penanggulangan bencana tidak hanya terfokus pada pasca bencana terjadi, akan tetapi harus menitik beratkan terhadap kesiapsiagaan sebagai upaya manajemen untuk meminimalisir dampak yang terjadi. Peningkatan pengetahuan penting dilakukan terhadap anak usia sekolah dengan memasukkan mitigasi atau kesiapsiagaan bencana kedalam kuriklum pendidikan.



Penulis : Eko Kurniawan
Mahasiswa FKM Konversi Universitas Malahayati Angkatan 2018, Lampung

Senin, 26 November 2018

Peran Perawat dalam Mengatasi Dampak Dari Perubahan Iklim, Studi Kasus di China

Apakah percaya perubahan Iklim itu nyata? Terlebih dahulu simak video berikut ini

Setelah mengikuti dan menyimak perubahan iklim tersebut, percayakah dengan perubahan iklim? Isu perubahan iklim ini sudah meruak di tahun 2000-an, yang kemudian gencar di sosialisasikan ke banyak negara. Untuk menanggapinya PBB membentuk konferensi Kyoto, awalnya negara yang tergabung dalam konferensi ini hanya sebagian kecil, lambat laun isu perubahan iklim ini semakin nyata sehingga semakin banyak negara yang ikut berkomitmen dalam mengurangi dampak perubahan iklim, salah satunya berkomitmen mengurangi emisi


Selama ini, isu ini hanya mengudara di kalangan terbatas, utamanya pada kalangan ahli atau tokoh yang berkecimpung pada kesehatan lingkungan. Namun, kini isu ini mengudara di tenaga kesehatan lainnya, salah satunya adalah perawat. Berangkat dari jurnal dengan judul "Nurses' knowledge and attitudes regarding potential impacts of climate change on public health in central of China" , kita akan mengupas peran-peran apa saja yang sudah dan harus dilakukan oleh perawat dalam menghadapi perubahan iklim. 

Silahkan sedikit menyimak latar belakang dari jurnal ini, bahwasanya dikatakan jumlah penyakit akibat dari perubahan iklim, setiap tahunnya terus meningkat hal ini ditengarai karena peningkatan jumlah industri. Perawat sebagai pintu gerbang dan bagian utama dari pelayanan kesehatan dirasa perlu meningkatkan perannya dalam meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan individu. Investigasi sebelumnya disebutkan dalam jurnal ini bahwa perawat di negara maju lebih memiliki pengetahuan lebih tentang perubahan iklim dibandingkan dengan perawat di negara berkembang. Untuk itulah penelitian ini dilakukan.

Hasil penelitian dalam jurnal ini menyebutkan bahwa sebagian besar perawat di China memiliki pengetahuan tentang perubahan iklim. Namun, pengetahuannya hanya sebatas pada gagasan bahwa perubahan iklim dapat mempengaruhi kehidupan sehari-hari mereka. Namun, mereka tidak menyadari bahwa perubahan iklim juga mempengaruhi pekerjaan, dan aktivitas mereka sebagai perawat. Temuan penting lainnya dari penelitian ini adalah perawat mengetahui perubahan iklim ini justru dari media sosial, kolega atau teman, hanya sebagian kecil yang mengetahuinya dari pendidikan sekolah. 

Temuan yang menarik bukan, perlu dikritisi, sudahkah dosen perawat dan bahkan perawat pelaksana juga mengetahui bahwa perubahan iklim ini akan dirasakan oleh mereka, dan betapa pentingnya perubahan iklim ini diintegerasikan dalam kurikulum mereka?

Bagi rekan-rekan yang ingin mengetahui lebih lanjut bisa kontak saya di research gate : vera yulyani

Penulis : Vera Yulyani S.Kep.,MPH

Selasa, 13 November 2018

Mengenalkan Mahasiswa Keperawatan Tentang Kajian Keselamatan Lingkungan Melalui Simulasi Untuk Mencegah Infeksi Nosokomial?

Berlanjut dari materi yang disampaikan sebelumnya mengenai hal INI, pada kali ini saya akan mencoba membedah jurnal yang ditulis oleh (Boothby & Little 2018), dengan judul seperti yang ada pada gambar dibawah ini:


Disampaikan dalam jurnal tersebut, menanggapi laporan dari Institute of Medicine yang mengkritik kompetensi profesional keperawatan dalam menyediakan perawatan yang aman bagi pasien, maka dari itu pendidik ditantang untuk mengubah program keperawatan. Hal ini tentunya sejalan dengan materi yang telah disampaikan sebelumnya, mengenai betapa pentingnya kesehatan lingkungan melebur kedalam kurikulum keperawatan. Pada artikel ini, membahas mengenai kelebihan dan kekurangan simulasi sebagai strategi mengajar dan menjelaskan konsep kesalamatan lingkungan, melalui simulasi ruang pasien menggunakan penilaian keamanan lingkungan.
Bagi rekan-rekan yang terjun dalam hal ini, tentu dari abstrak saja jurnal ini sudah cukup menarik untuk digeledah. Baik, mari kita geledah isi jurnal ini satu persatu. Disampaikan dalam jurnal tersebut, bahwa diperkirakan terdapat 210.000 - 440.000 pasien meninggal setiap tahunnya karena kesalahan medis yang sudah barang tentu dapat dicegah. Kurangnya kualitas dan keamanan perawatan pasien menjadi salah satu faktor penyebab yang disampaikan dalam jurnal ini. Sehingga dirasa perlu untuk mengembangkan pendidikan mengenai keamanan dan keselamatan lingkungan pada pasien. Melalui kegiatan simulasi sesuai yang telah direkomendasikan oleh IOM menjadi salah satu strategi yang dapat digunakan untuk mencegah kesalahan dalam pengaturan perawatan kesehatan. 

Dinilai dalam jurnal ini, seringkali perawat atau mahasiswa perawat hanya fokus pada perawatan pasien saja, sehingga mereka tidak menyadari bahwa lingkungan sekitar pasien dapat juga memperparah kesehatan pasien atau perawat. Lingkungan yang tidak aman tentunya akan menyebabkan risiko cedera menjadi besar, sebagai contoh jika perawat tidak menyadari betapa pentingnya alat pelindung diri untuk digunakan seperti masker dan sarung tangan, tentunya hal ini dapat membahayakan perawat, juga pasien. Sudah banyak penelitian yang meneliti mengenai hal ini, terutama tentang infeksi nosokomial dan kebanyakan dari penelitian tentu mendukung teori. Sayangnya, terkadang kita menutup diri terhadap realita yang sesungguhnya terjadi, hanya karena kita tidak mau mengembangkan dan merubah diri untuk menjadi lebih baik lagi.

Dalam jurnal pendekatan simulasi digunakan untuk menanamkan mengenai konsep keamanan dan keselamatan lingkungan di mahasiswa keperawatan. Hasilnya simulasi merupakan cara yang sangat efektif dan mudah untuk mengenalkan siswa mengenai kajian keselamatan lingkungan. Simulasi dirasa efektif sebagai strategi pengajaran untuk meningkatkan keamanan dan mencegah cedera saat memberikan perawatan pada pasien. 

Akhir kata, dengan memasukkan simulasi lingkungan pada kurikulum dan mengenalkannya pada mahasiswa keperawatan dapat menjawab permasalahan mengenai banyaknya kecelakaan akibat tindakan keperawatan. Saya rasa, artikel ini sangat menarik bagi rekan-rekan yang concern mengenai hal ini. 

Untuk membaca lebih lanjut mengenai jurnal ini, rekan-rekan dapat klik link DISINI 


DAFTAR PUSTAKA

Boothby, J. & Little, E., 2018. Introducing Nursing Students to an Environmental Safety Assessment Through Simulation. Teaching and Learning in Nursing, 13(3), pp.190–192. Available at: https://doi.org/10.1016/j.teln.2018.03.010.