Total Tayangan Halaman

Sabtu, 15 Februari 2020

Tentang Plastik Hitam di Pusat Kota Bandar Lampung

Kota Bandar Lampung merupakan ibu kota dari Provinsi Lampung yang merupakan pusat perekonomian Provinsi Lampung. Tidak heran kota ini juga dipenuhi tidak hanya penduduk pribumi melainkan juga penduduk pendatang. Kota ini berada tepat di seberang kota besar Jakarta Indonesia.  Kota Bandar Lampung menawarkan beragam daya tarik untuk masyarakat pendatang untuk terus kembali dan menetap sehingga bekerja disini. 

Kecamatan Tanjung Karang Pusat yang berada tepat ditengah Kota Bandar Lampung memiliki jumlah penduduk pendatang yang banyak yang berasal dari Kota Serang, Jawa, Bandung dan sebagainya. Terdapat 1 wilayah di kecamatan ini yang memiliki lokasi geografis diatas bukit. Penduduk pendatang sebagian besar tidak memiliki tanah dan menetap bertahun-tahun lamanya di rumah sewa non permanen. Wilayah perbukitan mengakibatkan rumah-rumah yang berada di puncak kesulitan mengakses air bersih. Oleh sebab itu, setiap pagi dan sore sebagian  masyarakat mengambil air yang didistribusikan oleh pemerintah dibawah bukit. Bagi masyarakat yang beruntung, mereka tidak perlu kelelahan untuk memperoleh distribusi air bersih, cukup dengan mengidupkan selang air yang hanya hidup di jam-jam tertentu untuk masuk dikamar mandi mereka. Itupun tidak gratis, ada bayaran-bayaran tertentu yang perlu mereka keluarkan untuk air tersebut. 


Air bersih bagi mereka tidak hanya diperuntukkan sebagai sumber untuk kebersihan sanitasi, melainkan juga untuk sumber air minum. Rekan-rekan mungkin sering menonton iklan mengenai minimal air untuk minum yang dibutuhkan per orang per hari adalah 2 liter dan kebutuhan air untuk sanitasi sekitar 60 liter. Maka untuk 1 orang saja mereka butuh 62 liter, dalam 1 rumah dengan keluarga berencana (ayah, ibu dan 2 orang anak) total keseluruhan air yang dibutuhkan adalah 248 liter. 1 dirigen yang mereka pikul berkisar 25 liter, dengan 2 tangan mereka maka mereka hanya mampu mengangkut air sebanyak 50 liter. Untuk memperoleh kehidupan yang layak dan bersih pun mereka dibatasi dengan hanya diperbolehkan mengambil air per keluarga 4 dirigen. Dari situ saja, kebutuhan air mereka tidak tercukupi.. 

Pada akhirnya ada kebutuhan air  yang terpaksa mereka korbankan, yaitu mengugurkan kebutuhan untuk sanitasi terutama buang air besar. Masalah air belumlah selesai, mereka juga harus memikul bahwa mereka kesulitan memiliki jamban. Jamban umum pun tak kan kalian lihat disini. Lalu bagaimana mereka buang air besar?

Ada sebagian kecil masyarakat di daerah sini terpaksa buang air plastik menggunakan plastik hitam. Plastik itu kemudian mereka lempar ke atas bukit kembali. Bila hujan turun plastik-plastik itu tentu akan berjatuhan dan menepi di pinggiran kota. Plastik hitam itu yang mungkin kalian lihat ketika berjalan di mall.. Plastik hitam itu yang mungkin berterbangan saat kendaraan roda dua kalian lewat. Plastik hitam itu, iya plastik hitam yang biasa kalian gunakan untuk mengangkut 1 atau 2 biji makanan kalian, tapi bagi mereka arti plastik hitam itu lain.. Kita mengenal ini dengan plastik hitam terbang. 


*sekian dulu cerita lain dari Pusat Kota Bandar Lampung, maaf bila ada kalimat dan kata-kata yang membingungkan. Sedang belajar menulis santai..


*Hasil riset tahun 2019

Minggu, 19 Januari 2020

UJIAN AKHIR SEMESTER PART 2 - METOPEL AKAFARMA

PERATURAN UAS :
1. MAHASISWA DIWAJIBKAN HADIR MAKSIMAL 10 MENIT SEBELUM JADWAL YANG TELAH DITENTUKAN.
2. PERSIAPKAN PPT DAN KUMPULKAN MAKSIMAL 1 JAM SEBELUM PRESENTASI KE ALAMAT EMAIL VERA.YULYANI@MALAHAYATI.AC.ID
3. 5 ORANG DENGAN PPT TERBAIK BOLEH TIDAK PRESENTASI DAN KEPADANYA BERHAK MENDAPATKAN NILAI A. PENGUMUMAN PPT TERBAIK AKAN DILAKUKAN ESOK HARI SEBELUM ORAL PRESENTASI. JIKA TIDAK ADA PPT YANG BAIK, MAKA ATURAN INI GUGUR.
4. MAHASISWA AKAN MAJU PERSENTASI PERORANGAN PER TIM SESUAI DENGAN JADWAL YANG TELAH DITENTUKAN.
5. BAGI MAHASISWA YANG TERLAMBAT DAN ATAU TIDAK HADIR UNTUK UAS PADA JADWAL YANG TELAH DITENTUKAN, SECARA OTOMATIS MEMPEROLEH NILAI D.

FORMAT PENILAI PRESENTASI

1. PEMAPARAN (SISTEMATIKA PENYAJIAN DAN ISI, KEMUTAKHIRAN ALAT BANTU, PENGGUNAAN BAHASA YANG BAKU, CARA DAN SIKAP PRESENTASI, KETEPATAN WAKTU) DENGAN BOBOT 20%
2. GAGASAN (KREATIVITAS GAGASAN, KELAYAKAN IMPLEMENTASI)  DENGAN BOBOT 50%
3. DISKUSI (TINGKAT PEMAHAMAN GAGASAN) DENGAN BOBOT 30%

TOTAL 100%


BERIKUT INI JADWAL UJIAN AKHIR SEMSTER UNTUK ESOK HARI, MOHON DIPERSIAPKAN:

TIM
NAMA
JAM PRESENTASI
1.
PUTRI HANDAYANI SARODAH
10.00 – 10. 20
WIWIK YULIANA

WAYAN CITRA NOVERIDA

ARI SUSANTI

DESTIA AYU

2
ANI SURYANI
10.20 – 10.40
ANIS ALMAIDA

VINKA NURSYAH

TRI YUSTIKA

3
AGENG LUHUR
10.40 – 11.00
DARA CALISTA

SILVIANA

SITI NURHAMALA

4
SASCIA TRI
11.00 – 11.20
RAHMAT SETIAWAN

PUTRI SYEDA

NAFA SATI

5
MUHAMMAD IQBAL
11.20 – 11.40
MELISA

HELDA YUTAMI

EVA RIA

Minggu, 12 Januari 2020

DAFTAR NILAI DAN PERATURAN UJIAN AKHIR SEMESTER - METOPEL - AKAFARMA

SELAMAT KEPADA 11 MAHASISWA DIBAWAH INI YANG BERHASIL MENGERJAKAN DRAFT PROPOSAL MENGIKUTI FORMAT DAN KETENTUAN YANG TELAH DISAMPAIKAN SEBELUMNYA. ADAPUN 11 NAMA DIBAWAH INI TIDAK PERLU MENGIKUTI UJIAN ORAL PRESENTASI UNTUK UAS METODOLOGI PENELITIAN :

1. AJI PUTRA ROSMIAWAN
2. AHMAD BAGUS MINDIARTO
3. RIMA SARI MIHARIA
4. EUSTACIA EVELINNE OKTAVIANNI
5. NI NYOMAN NIKKY DEWITA
6. IGA PARADILA
7. APRIYANA KARTIKA SARI 
8. SELVIANA DWI PUTRI
9. TITIS NURHAYATI
10. NIKHITA ANINDYA SALSABILA
11. NYOMAN TRI LINDI



KEPADANYA MAKA BERHAK MENDAPATKAN NILAI A UNTUK MATA KULIAH INI.

ADAPUN JADWAL ORAL PRESENTASI UNTUK UAS METOPEL AKAFARMA PADA 13 JANUARI 2020 ADALAH  SEBAGAI BERIKUT :

TIM
NAMA
JAM PRESENTASI
1.
MARTA DINATA
10.00 – 10. 20
MAYA AYU WILIAN

MONICA CINTIYA ANGGRAINI

MARTIKA PUTRI NINGTIAS

2
RATIH DWI PRAMANA
10.20 – 10.40
MUHAMMAD HAFIDZ

NI PUTU AYU CANDRA DEWI

NURI YANDA SETIA PUTRI

3
PUTRI AYU LESTARI
10.40 – 11.00
PUTRI HANDAYANI SARODAH

MARANTIKA KOMALASARI

LINI OCHA AZIZAH

4
PUTRI SYEDA FARAH
11.00 – 11.20
RISCHA DWI NINGSIH

LIANA FAJRIAH

HANALISA PERTIWI

5
EVINA YANTI
11.20 – 11.40
DIYAH SINTYA HAFIDAH

AGNES DWI NOVITA

DANIA APRILIA



PERATURAN UAS :
1. MAHASISWA DIWAJIBKAN HADIR MAKSIMAL 10 MENIT SEBELUM JADWAL YANG TELAH DITENTUKAN.
2. PERSIAPKAN PPT DAN KUMPULKAN MAKSIMAL 1 JAM SEBELUM PRESENTASI KE ALAMAT EMAIL VERA.YULYANI@MALAHAYATI.AC.ID
3. 5 ORANG DENGAN PPT TERBAIK BOLEH TIDAK PRESENTASI DAN KEPADANYA BERHAK MENDAPATKAN NILAI A. PENGUMUMAN PPT TERBAIK AKAN DILAKUKAN ESOK HARI SEBELUM ORAL PRESENTASI. JIKA TIDAK ADA PPT YANG BAIK, MAKA ATURAN INI GUGUR.
4. MAHASISWA AKAN MAJU PERSENTASI PERORANGAN PER TIM SESUAI DENGAN JADWAL YANG TELAH DITENTUKAN.
5. BAGI MAHASISWA YANG TERLAMBAT DAN ATAU TIDAK HADIR UNTUK UAS PADA JADWAL YANG TELAH DITENTUKAN, SECARA OTOMATIS MEMPEROLEH NILAI D.

FORMAT PENILAI PRESENTASI

1. PEMAPARAN (SISTEMATIKA PENYAJIAN DAN ISI, KEMUTAKHIRAN ALAT BANTU, PENGGUNAAN BAHASA YANG BAKU, CARA DAN SIKAP PRESENTASI, KETEPATAN WAKTU) DENGAN BOBOT 20%
2. GAGASAN (KREATIVITAS GAGASAN, KELAYAKAN IMPLEMENTASI)  DENGAN BOBOT 50%
3. DISKUSI (TINGKAT PEMAHAMAN GAGASAN) DENGAN BOBOT 30%

TOTAL 100%



Selasa, 28 Mei 2019

MENGANGKAT ISU BUANG AIR BESAR SEMBARANGAN MENJADI ISU NASIONAL

Apakah kalian tahu bahwa Indonesia merupakan negara kedua terbanyak yang jumlah penduduknya masih Buang Air Besar Sembarangan?
Apakah sajakah faktor yang mempengaruhinya, silahkan klik
DISINI


Indonesia is the second-most-populated country still practicing open defecation. The low utilization of latrines is a big problem that can affect human health and the environment. Several sub-districts in Tanggamus Regency have the lowest reported use of a latrine. This study aimed to determine associated factors of latrine usage in Tanggamus Regency in 2017.. A cross-sectional study was conducted among 399 households in Tanggamus Regency, Lampung. Sampling was proportional to the total number of household in 20 sub-districts. Respondents were interviewed by a structured
questionnaire . Data were analyzed using SPSS version 18.0. The study observed that a majority (55.6%) of the respondents used a latrine; furthermore, more than half of all respondents indicated good knowledge (55.9%), positive attitude (57.4%), good economic status (56.1%), access to a proper latrine (57.6%), good support from health office (55.4%), and availability of clean water (53.4%). Multivariate analysis showed that attitude was the most dominant factor related to the utilization of latrine (P<0.05 and adj OR=3.2). Encouraging communities to translate their positive
attitudes into the behavior was very important. Policies, community leaders, and heads of households should all be influenced to change community attitudes to drive consistent latrine use.
 

Rabu, 09 Januari 2019

Nilai Metode Penelitian AKAFARMA

Berikut ini adalah nilai metode penelitian akafarma, bagi yang remedial, silahkan membuat tugas sesuai dengan instruksinya, dibuat perorangan. Remedial maksimum dikumpulkan 16 Januari 2018
Grade A : >= 76
Grade B : 66 – 75
Grade C : 55 – 65
Grade D : <54

Remedial hanya berlaku untuk naik 1 tingkat diatasnya, dengan nilai maksimum remedial adalah B. 





Selasa, 08 Januari 2019

Inilah pentingnya makan buah dan sayur, roleplay keluarga

Lampung, Sudah sadarkah kita terhadap bencana?




Tak terasa sekarang memasuki awal tahun 2019, semoga di tahun ini kita diberi keselamatan dan
kesehatan dariNya, Saya merupakan warga negara Indonesia yang lahir di Lampung, hidup di Lampung
pasti familiar dengan dengan yang namanya laut, dipastikan satu tahun sekali saya berwisata bersama
kerabat untuk melihat dan menikmati indahnya pantai dan gemuruh ombak, lampung terkenal dengan
spot spot pantai dan lautnya yang nan eksotis, Provinsi ini memiliki salah satu Pantai yang terkenal
antara lain Labuhan Jukung yang berada di Krui terkenal akan spot surfingnya dan Pahawang yang
berada di Tanggamus yang terkenal akan spot divingnya, keeksotisan pantai tersebut banyak
mengundang wisatawan lokal maupun luar untuk berkunjung ke provinsi ini, tidak hanya laut
sebenarnya, di bagian barat lampung terbentang Bukit Barisan yang menambah keunikan topografi dari
provinsi ini, saya sangat beruntung menjadi bagian dari Provinsi ini.
Ketika musim liburan ataupun banyak wisatawan berkunjung tidak mengenal musim kemarau ataupun
musim hujan disertai angin kencangpun mereka tetap datang karena mereka ingin sekali berkunjung
dan menghabiskan waktu di Lampung, Ketika musim hujan contohnya, masih saja banyak wisatawan
melakukan kegiatan surfing di Krui walaupun mereka tahu kegiatan itu beresiko berbahaya. Sudah
banyak korban dari wisatawan asing atau pun lokal yang tergulung ombak karena tetap nekat
beraktifitas di sekitar pantai, angin ataupun ombak tidak dapat diprediksi. Bmkg melalui Media lokal pun
menghimbau warga untuk tidak berkatifitas dsekitaran pesisir, walau begitu keeksotikan pantai – pantai
dilampung memikat daya tarik mereka, ataupun warga yang memang hidup dan tinggal di daerah pesisir
pantai seperti nelayan yang hidupnya memang bergantung terhadap laut, ya namanya cari makan
“ombak dan lautan kan ku sebrangi” tidak mengenal musim kemarau atau pun hujan nelayan tetap pergi
berminggu – minggu, ya kalau tidak melaut mereka mau makan apa dan juga banyak masyarakat yang
hidup bergantung dari wisatawan, contohnya pemilik – pemilik warung, homestay dan lain – lain. Ketika
wisatawan atau pun cuaca buruk pasti menghasilan mereka merosot tajam.
Provinsi yang kaya ini juga sangat bergantung kepada sektor kelautan, provinsi yang terkenal dengan
pengekspor ikan nasional dan internasional, ombak kencang pun tak mengalangi mereka mencari nafkah
Indonesia merupakan negara yang secara geologi terletak di garis khatulistiwa sehingga memiliki 2
musim yaitu musim kemarau dan musim hujan dan juga uniknya posisi negara ini yang berada di
pertemuan tiga lempeng utama dunia, yaitu Eurasia, Indoaustralia dan Pasifik dan dapat dipastikan
indonesia memang sangat berpotensi terjadinya gempa didarat maupun dilautan yang dapat
menimbulkan gelombang tsunami dan gelombang tinggi, ditahun kemarin 2018 saja tercatat lebih dari
6.000 gempa dan 8.000 gelombang tinggi, ini merupakan potensi yang besar terhadap Negara, karena
berpotensi menyebabkan kerugian fisik dan juga terjadinya korban jiwa.
Pemerintah Melalui Basarnas (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) sejak dulu sudah melakukan
mitigasi bencana yaitu adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui
pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana
(Pasal 1 ayat 6 PP No 21 Tahun 2008 Tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana).
Secara harfian Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu
kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor non
alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan
lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.
Bencana berdasarkan sumbernya dibagi menjadi tiga, yaitu:
▪ Bencana alam, adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa/serangkaian peristiwa oleh alam
▪ Bencana nonalam, adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa/serangkaian peristiwa nonalam
▪ Bencana sosial, adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa/serangkaian peristiwa oleh manusia
Bencana alam juga dapat dikelompokkan sebagai berikut:
▪ Bencana alam meteorologi (hidrometeorologi). Berhubungan dengan iklim. Umumnya tidak terjadi
pada suatu tempat yang khusus
▪ Bencana alam geologi. Adalah bencana alam yang terjadi di permukaan bumi seperti gempa bumi,
tsunami, dan longsor
Penyebab bencana alam di Indonesia:
▪ Posisi geografis Indonesia yang diapit oleh dua samudera besar
▪ Posisi geologis Indonesia pada pertemuan tiga lempeng utama dunia (Indo-Australia, Eurasia, Pasifik)
▪ Kondisi permukaan wilayah Indonesia (relief) yang sangat beragam
Basarnas telah melakukan upaya upaya preventif,promotif, dan kuratif, tapi tetap saja masih kecelongan
jika terjadi bencana, contohnya masih saja terjadinya korban jiwa dalam bencana alam dan ketika
bencana warga masih bingung untuk menyelamatkan diri, memang basarnas telah melakukan
pemetaan terhadap wilayah – wilayah yang berpotensi terjadinya bencana, peringatan peringatan
seperti sirine, alat alat pemantauan gempa belum terpenuhi, jadi agak kurang berhasil upaya- upaya
yang dilakukan basarna tanpai disertai Infrastruktur yang mempuni serta personil yang memang meiliki
keahlian, dalam catatan positif saya Basarnas mempunyai nilai A+ terhadap kuratif bencana, Basarnas
Hadir pertama kali melakukan evakuasi korban bencana sampai keadaan di daerah tersebut kondusif
basarnar selalu hadir, contohnya saya Kejadian Tsunami Desember 2018 kemarin di Lampung Basarnas
Hadir dari awal hingga akhir di daerah tersebut menolong para korban dan keluarga korban, sampai
memenuhi logistik yang diperlukan kepada korban.
Dalam hal ini menurut saya Basarnar Harus fokus kepada kegiatan Preventif bencana, seperti datang ke
sekolah sekolah mulai dari TK sampai SMA untuk memberi edukasi kepada anak – anak dan masyarakat
menghadapi bencana, bagaimana cara berlindung dan juga cara penanggulangan bencana, karena ketika
terjadi bencana sangat dipastikan banyak yang menjadi korban adalah anak – anak. Basarnas juga bisa
membuat jalur evakuasi bencana alam, agar para warga tidak bingung kemana mereka berlindung,
selama ini warga ketika terjadi gempa bumi hanya keluar rumah dan mereka tidak beranjak dari tempat
tersebut, padahal ketika terjadi tsunami mereka rentan tersapu ombak.
Pendidikan tentang bencana alam sangat penting terdahap anak – anak karena merekalah penerus
bangsa ini, bisa menggunakan remaja – remaja didesa membentuk emergency team respon yang
bertugas memanajemen bencana disuatu desa tersebut.
Basarnas juga bisa berkoordinasi dengan Dinas setempat untuk melalukan penataan lokasi tempat
tinggal warga, merancang rumah warga dll agar meminimalisir terjadinya korban dan kerugian materil.
Dan yang harus di puhi adalah fasilitas – fasilitas penunjang seperti alat pendeteksi tsunami,gempa dan
juga shelter gempa atau tsunami
Referensi
Online article Mengapa gempa terus terjadi di Indonesia?.CNN.2018 [Citied 3 January 2019].
Avaible From : https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-45086874
Online article Pengertian Mitigasi Bencana.BASARNAS.2018 [Citied 3 January 2019]
Avaible From : http://bpbd.karanganyarkab.go.id/?p=603




Penulis : Fadillah Ahmad
Mahasiswa Konversi 2018 Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Malahayati

Pendidikan Bencana Sejak Dini Mutlak Penting -Hidup Di Atas Negeri Bencana-


BAB I
    PENDAHULUAN
                Masyarakat masih banyak yang kebingungan ketika bencana terjadi. Hal itu terjadi karena lemahnya kesiapsiagaan diri menghadapi bencana. Tanpa pengetahuan akan mitigasi bencana, kepanikan yang sering terjadi hanya akan menambah korban dan membuat proses mitigasi menjadi lambat. Panaroma alam dan perairan Indonesia terkenal hingga ke penjuru dunia. Kekayaan yang dimiliki negeri ini juga berlimpah ruah. Banyak investor asing yang tertarik mengekplorasi kekayaan alam Indonesia. Namun, di balik itu semua, dalam sentuhan geologis Indonesia merupakan negeri di atas bencana.
                Sebagai negara yang termasuk dalam lingkungan cincin api (ring of fire), Indonesia memiliki potensi bencana alam cukup tinggi. Bagaimana tidak? Negeri ini berada di antara wilayah lintasan dua jalur pegunungan, yaitu pegunungan sirkum Pasifik dan sirkum Mediterania yang terdapat banyak gunung berapi.
Ring of fire merupakan rangkaian lempeng atau patahan besar yang menjadi ancaman potensial gempa. Posisinya mengepung perairan Indonesia mulai dari Laut Andaman menjalar dari atas pesisir Sumatera hingga timur. Lempeng ‘Semangka’ di sepanjang daratan pantai barat Sumatera berakhir di Selat Sunda. Kemudian, bersambung dengan rangkaian puluhan gunung berapi aktif di Jawa-Bali-Lombok-Sumbawa-Flores hingga Pulau Alor
Berada di wilayah dengan potensi bencana sangat dahsyat membuat pendidikan mengenai bencana menjadi sangat penting. Pasalnya, kesadaran dan pemahaman hubungan antara bencana dan kebutuhan masyarakat adalah hal yang sangat penting dalam meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dalam mengurangi risiko bencana.
                Dalam menghadapi bencana, masyarakat harus bisa mengantisipasi, meminimalisasi, dan menyerap potensi stres atau kekuatan destruktif melalui adaptasi atau resistensi. Selain itu, juga harus bisa mengelola atau menjaga fungsi dan struktur dasar tertentu, selama peristiwa bencana, serta mampu memulihkan pasca-bencana.
"Pendidikan mengenai bencana sangat penting untuk diajarkan di sekolah sejak dini. Jika kesiapsiagaan dilatih sejak dini, maka ketika
terjadi bencana, masyarakat tidak akan gagap
Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Wamendikbud) Musliar Kasim mengatakan, pendidikan mengenai mitigasi bencana sudah ada dalam kurikulum 2013. Dia menjelaskan pendidikan mengenai subtansinya ada di setiap pelajaran, misalnya, pendidikan mengenai lingkungan.
"Pendidikan bencana sudah ada di kurikulum 2013. Ada di setiap pelajaran. Pendidikan mitigasi bencana juga ada di program sekolah aman," ujar Wamendikbud di Jakarta belum lama ini. Lantas apa pentingnya sekolah aman untuk menghadapi bencana?
Anak-anak merupakan komunitas yang sangat rentan terhadap bencana. Dan sebagian besar dari kehidupan anak-anak tersebut berlangsung di sekolah. Misalnya, saat berada dalam kelas, terjadi gempa bumi. Tanpa pengetahuan akan mitigasi bencana, anak-anak serta para guru pasti panik, tidak tahu apa yang akan dilakukan. Bagaimana menyelamatkan diri, menyelamatkan anak dan lainnya. Kepanikan yang seperti ini biasanya malah menambah korban, membuat proses mitigasi menjadi lambat.
Dengan mengikuti pedoman sekolah aman bencana, seharusnya sekolah melakukan simulasi mitigasi bencana secara rutin. Para murid dan guru, diajarkan bagaimana bertindak ketika terjadi bencana gempa. Bagaimana proses evakuasi dilakukan. Pengetahuan mitigasi itu harus diasah terus menerus, sebagai salah satu upaya mengurangi risiko yang terjadi akibat bencana.
Seperti diketahui, program Sekolah Aman dicetus pada 2012, program percontohan Sekolah Aman dilakukan di lima provinsi, yaitu Sumatera Barat (Padang dan Padang Pariaman), Jawa Barat (Kota Bandung dan Kabupaten Bandung), Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur (Sikka), serta Jawa Tengah (Rembang dan Grobogan).
Sebelumnya juga, ditandatangani Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Nomor 4 Tahun 2012 tentang Pedoman Penerapan Sekolah/Madrasah Aman dari Bencana. Pedoman tersebut diluncurkan di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) pada 2012.              
Pedoman Penerapan Sekolah Aman dari Bencana ini disusun oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta beberapa lembaga seperti Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian Agama, Bank Dunia, UNDP, ITB, Yayasan KerLiP dan lainnya.

BAB II
ISI

                Indonesia merupakan kepulauan dengan potensi bencana alam sangat tinggi khususnya untuk bencana alam gempa bumi, letusan gunung berapi, dan tsunami, karena terletak pada pertemuan tiga lempeng/kerak bumi aktif. Ketiga lempeng aktif tersebut adalah lempeng Indo-Australia di bagian selatan, lempeng Eurasia di bagian utara dan lempeng Pasifik di bagian Timur. Lempeng tersebut bergerak dan saling bertumbukan sehingga lempeng Indo-Australia menunjam ke bawah lempeng Eurasia. Penunjaman lempeng Indo-Australia yang bergerak ke utara dengan lempeng Eurasia yang bergerak ke selatan menimbulkan jalur gempa bumi dan rangkaian gunungapi aktif. Hal tersebut diperjelas lagi oleh Mister and Jordan (1978) menjelaskan bahwa Asia Tenggara bergerak 1 cm/tahun ke arah tenggara, sedang lempeng Samudera Hindia-Australia bergerak 7 cm/tahun ke arah utara, dan lempeng Pasifik barat bergerak 9 cm/tahun ke arah barat. Banyak data tentang gerakan lempeng yang telah diperoleh sejak munculnya Global Positioning System (GPS) (Verstappen, 2000: 17).
                Sehingga sangat wajar apabila dari hasil inventarisasi Badan Penanggulangan Bencana (BPBD) DIY, ada sekitar 3.000 sekolah di DIY yang berada di kawasan rawan bencana (Sumber: Kedaulatan Rakyat, 1 Februari 2014).
Berdasarkan sumber di atas dapat ditarik benang merah, bahwa kita tidak mungkin mengelak dari bencana. Yang bisa kita lakukan adalah bagaimana kita belajar hidup berdampingan dengan wilayah rawan bencana. Dengan keluarnya UU no. 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, telah terjadi berbagai perubahan yang cukup signifikan terhadap upaya penanggulangan bencana di Indonesia, baik dari tingkat nasional hingga daerah. Jika upaya penanggulangan bencana di Indonesia bersifat tanggap darurat saja (emergency response). Melalui UU no. 24 tahun 2007 ini mencakup semua fase bencana, diawali dengan fase mitigasi, kesiapsiagaan, tanggap darurat hingga pemulihan pasca bencana. Perubahan paradigma dari tanggap darurat menjadi siaga bencana, bahwa bencana tidak lagi dianggap sebagai sesuatu yang harus diterima begitu saja. Tetapi, juga bisa diantisipasi kejadian bencana, korban dan diminimalisir dampaknya.
                Perlu kiranya pemerintah memperbanyak sosialisasi tentang pengurangan risiko bencana/mitigasi bencana melalui jalur pendidikan. Sekolah sebagai institusi pendidikan seharusnya tidak hanya memberikan transfer of knowledge saja, namun juga harus mampu memberikan kecakapan dan keterampilan untuk kelangsungan hidup bagi siswa ketika sudah terjun di masyarakat. Mitigasi bencana merupakan bagian dari keterampilan untuk kelangsungan hidup siswa. Siswa merupakan orang yang paling cepat menstransfer ilmu yang didapat dari sekolah untuk keluarga dan masyarakatnya. Oleh karena itu, pemberdayaan anak usia sejak dini untuk memahami mitigasi bencana merupakan langkah awal dalam membangun masyarakat sadar bencana. Sehingga ketika terjadi bencana siswa, guru, dan masyarakat tidak lagi kebingungan, panik, karena telah memahami bagaimana cara mengurangi risiko bencana.
 Tentunya dalam hal ini sangat diperlukan media yang tepat untuk menanamkan mitigasi bencana yang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik siswa. Penanaman mitigasi bencana sejak dini di sekolah dapat dilakukan dengan menggunakan bantuan cerita bergambar, latihan simulasi ringan, maupun menyisipkan materi mitigasi bencana ke dalam materi pelajaran yang sesuai. Pemberdayaan anak sejak dini untuk memahami mitigasi bencana merupakan langkah awal dalam membangun masyarakat sadar bencana. Dengan harapan pengetahuan yang didapat dari sekolah dapat ditularkan pada lingkungan sekitar dalam rangka mengurangi risiko bencana.
               










BAB III
KESIMPULAN

                Dari hasil pemaparan dan penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa:
1.       Pendidikan tanggap bencana sangatlah penting sejak dini
upaya mitigasi bencana seperti yang ada di daerah Selat Sunda seharusnya melibatkan tiga pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, ilmuan, dan swasta. Tujuannya agar mereka dapat berpartisipasi dalam menghadapi bencana.

“Seperti kejadian kemarin di Pandeglang di Selat Sunda. Itu, kan, banyak perusahaan pariwisata. Kalau mereka punya pengetahuan dan kewaspadaan, mungkin mereka akan melakukan upaya bagaimana saat terkena tsunami tidak rubuh. Akhirnya memakan korban jiwa,” kata dia. 
2.       Selain pendidikan, hal penting yang mesti disiapkan pemerintah adalah teknologi deteksi dini bencana.
Teknologi kebencanaan ini sangat penting untuk memberikan kewaspadaan bagi masyarakat. Sebab, tanpa teknologi yang dapat mendeteksi potensi bencana terjadi, maka pendidikan bencana akan terhambat.

“Karena tanpa teknologi sistem peringatan ini terasa tidak lengkap, masyarakat harus waspada. Teknologi itu,
akan memberikan kewaspadaan bagi masyarakat, dan masyarakat sendiri juga harus mendapatkan pengetahuan,” .






BAB IV
REFERENSI

Journal Article
Yuansyah Satya, Neraca Bencana. 2014

PGSD Article
Riyan Setiawan, Tanggap Bencana. 2014

Koran Sindo
Jejen Musfah, Pendidikan Tanggap Bencana. 2018

Tirto.id-Sosial Budaya
Abdul Aziz, Tsunami Selat Sunda. 2018


 Penulis : Puspa Sari
Mahasiswa Konversi 2018 Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Malahayati Bandar Lampung